Ada Benang Merah Muaro Jambi dan Borobudur? Ini Cerita di Baliknya

YOGYAKARTA, CERITAJAMBI.COM – Kunjungan sejumlah jurnalis Jambi ke kawasan Borobudur, Yogyakarta, tidak hanya menjadi perjalanan wisata dan kebudayaan. Kunjungan tersebut juga membuka kembali pertanyaan tentang jejak peradaban, jaringan pendidikan Buddha, serta kemungkinan hubungan intelektual antara Muaro Jambi di Jambi dengan pusat-pusat pembelajaran Buddha di masa lalu.

Dalam kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 3 Oktober 2026, rombongan wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Ekonomi Bisnis (Forweb) Jambi bersama Bank Indonesia Perwakilan Jambi mendapat kesempatan menggali cerita sejarah dari kawasan Borobudur dan Museum Nusantara.

Salah satu cerita menarik disampaikan Daryat, storyteller di Museum Nusantara. Ia menggambarkan Muaro Jambi bukan sekadar kawasan percandian, tetapi sebagai bagian dari peradaban dan jaringan pendidikan Buddha yang memiliki hubungan luas hingga India dan Tibet.

Menurut Daryat, pada masa lalu para pelajar Buddha yang hendak memperdalam ilmu sebelum melanjutkan pendidikan ke Nalanda, India, disebut terlebih dahulu belajar di Sumatra.

“Muaro Jambi itu bukan hanya candi, bukan hanya kerajaan. Di situ adalah peradaban yang maju, yaitu universitas,” ujar Daryat.

Ia menyebut kurikulum pembelajaran di Muaro Jambi memiliki kesamaan dengan Nalanda sehingga pelajar yang telah menempuh pendidikan di Sumatra dapat melanjutkan pembelajaran ke India.

Cerita tersebut sejalan dengan sejumlah catatan mengenai posisi penting Sumatra sebagai pusat pembelajaran Buddha pada masa Sriwijaya.

UNESCO dalam dokumen pengusulan Muarajambi Temple Compound ke daftar tentatif Warisan Dunia menyebut kawasan Muaro Jambi memiliki luas sekitar 3.981 hektare dan tersebar di delapan desa.

UNESCO juga menyebut Muaro Jambi sebagai salah satu pusat penting agama Buddha, ilmu pengetahuan dan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara pada masa lampau, serta memiliki hubungan dengan pusat pembelajaran Nalanda di India.

BACA JUGA :  RS Tk. III 02.06.01 dr. Bratanata Jambi melaksanakan Re-Akreditasi LAFKI, Evaluasi Mutu Pelayanan Kesehatan

Kawasan tersebut berkembang dalam rentang panjang, dengan jejak aktivitas yang berkaitan dengan perkembangan Buddha di Sumatra.

Cerita mengenai jaringan pendidikan tersebut juga membawa nama Dharmakirti atau Suvarnadvipa, guru besar Buddha yang dikaitkan dengan Sumatra, serta Atisha Dipamkara, tokoh Buddha yang kemudian berpengaruh besar di Tibet.

Daryat menyebut Atisha merupakan salah satu murid Dharmakirti yang kemudian mendapat tugas untuk menyebarkan ajaran Buddha hingga Tibet.

“Guru agungnya namanya Dharmakirti, Sakyakirti. Muridnya yang namanya Atisha Dipankara. Nama tempatnya adalah Swarnadwipa, yaitu Sumatra,” katanya.

Dalam catatan UNESCO, Atisha memang disebut pernah belajar kepada Dharmakirti atau Suvarnadvipa di Sumatra selama sekitar 12 tahun sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke Tibet.

Namun, lokasi persis tempat Atisha menempuh pendidikan di Sumatra hingga kini masih menjadi bagian dari perdebatan sejarah. Karena itu, hubungan langsung antara Atisha dengan kompleks Muaro Jambi tidak dapat begitu saja dipastikan sebagai fakta.

Meski demikian, jejak tersebut memperlihatkan bahwa Sumatra pada masa itu berada dalam jaringan intelektual Buddha yang sangat luas.

Daryat juga mengaitkan perkembangan ajaran Buddha dari Sumatra dengan wilayah Jawa yang kemudian mengalami akulturasi dengan tradisi dan budaya setempat.

“Penyebaran agama Buddha kan dari sana dulu, baru ke sini, nanti baru lanjut sampai mungkin katakanlah Jawa Timuran, walaupun sudah diakulturasi dengan tradisi dan budaya Jawa,” ujarnya.

Cerita tentang jaringan ilmu pengetahuan masa lalu tersebut kemudian menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan Borobudur.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi, Robby Fathir Nashary, dalam kesempatan yang sama mempertanyakan bagaimana masyarakat masa lalu mampu membangun Borobudur dengan teknologi dan pengetahuan yang begitu kompleks.

“Kalau Borobudur sudah dibuat dengan teknologi secanggih itu, apakah mungkin Borobudur dibangun tanpa adanya ilmu pengetahuan? Pasti ada ilmu pengetahuannya,” kata Robby.

BACA JUGA :  Wali Kota Jambi Melayat ke Rumah Duka Bocah 4 Tahun yang Hanyut, Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan

UNESCO mencatat Candi Borobudur dibangun pada abad ke-8 hingga ke-9 pada masa Dinasti Syailendra.

Kompleks tersebut memiliki rancangan arsitektur yang sangat kompleks, dengan ribuan panel relief dan 72 stupa berlubang yang menjadi bagian dari struktur monumentalnya.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar bagaimana Borobudur dibangun, tetapi dari mana pengetahuan dan tradisi keilmuan yang menopang peradaban tersebut berkembang.

Di titik inilah cerita tentang Muaro Jambi menjadi menarik untuk ditelusuri.

Bukan berarti telah terbukti bahwa ilmu pembangunan Borobudur berasal dari Muaro Jambi. Bukti langsung mengenai hubungan tersebut belum cukup untuk membuat kesimpulan demikian.

Namun, keberadaan jaringan pendidikan Buddha antara Sumatra, India dan kawasan Asia lainnya menunjukkan bahwa pertukaran pengetahuan pada masa itu telah berlangsung lintas wilayah.

Petunjuk lain mengenai hubungan antardaerah justru ditemukan pada tinggalan arkeologi di kawasan Muaro Jambi.

Salah satunya adalah makara dari Candi Kedaton.

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V mencatat makara di Candi Kedaton terbuat dari batu andesit. Pada salah satu makara juga terdapat tulisan menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno dengan karakter Kadiri Kuadrat yang diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-11.

Temuan tersebut menunjukkan adanya jejak hubungan budaya dan penggunaan bahasa Jawa Kuno di kawasan Muaro Jambi.

Namun, asal batu andesit tersebut maupun tempat pembuatannya tidak dapat langsung disimpulkan hanya berdasarkan keberadaan tulisan atau bentuk makara.

Karena itu, temuan tersebut lebih tepat dilihat sebagai salah satu petunjuk adanya hubungan manusia, budaya dan pengetahuan antara berbagai wilayah Nusantara pada masa lalu.

Bagi Robby, perjalanan menelusuri hubungan sejarah Jambi dan Yogyakarta juga memiliki relevansi pada masa sekarang.

BACA JUGA :  BPBD Muaro Jambi Sebut Ada 73 Desa di Muaro Jambi Masuk Zona Rawan Karhutla, Warga Diminta Hati Hati

Borobudur dapat menjadi pintu masuk wisatawan untuk mengenal kekayaan budaya Indonesia, sementara Muaro Jambi dapat ditawarkan sebagai destinasi lanjutan yang memiliki karakter sejarah berbeda namun sama-sama memiliki akar kuat dalam perkembangan peradaban Buddha.

Konektivitas tersebut dinilai dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Muaro Jambi sendiri memiliki kawasan yang sangat luas. UNESCO mencatat kawasan cagar budaya tersebut mencakup sekitar 3.981 hektare dan berada di delapan desa.

Artinya, pengembangan kawasan tidak hanya berbicara tentang pemugaran bangunan cagar budaya, tetapi juga bagaimana masyarakat sekitar mendapatkan manfaat ekonomi dari aktivitas wisata tanpa mengorbankan nilai sejarahnya.

Konsep yang disampaikan dalam pembahasan tersebut sederhana. Kawasan inti cagar budaya harus tetap dilindungi, sementara aktivitas ekonomi dan pariwisata dapat berkembang di kawasan pendukung.

“Cagar budaya itu seperti kuning telur, sedangkan aktivitas ekonomi masyarakat dan pariwisata di luarnya seperti putih telur,” menjadi gambaran bagaimana perlindungan dan pengembangan kawasan dapat berjalan bersamaan.

Cerita Daryat tentang Muaro Jambi, catatan UNESCO mengenai jaringan pendidikan Buddha di Sumatra, serta pertanyaan Robby mengenai sumber pengetahuan pembangunan Borobudur akhirnya bertemu pada satu titik.

Ratusan hingga lebih dari seribu tahun lalu, wilayah yang kini disebut Indonesia telah menjadi bagian dari jaringan pertukaran manusia, agama, budaya dan pengetahuan yang menghubungkan Sumatra, Jawa, India hingga Tibet.

Dan Muaro Jambi menjadi salah satu jejak penting dari jaringan peradaban tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *