Ini Penyebab Kecelakaan di Tol Cipularang, Kakorlantas: Truk Berkecepatan Tinggi

Kepolisian ungkap penyebab kecelakaan beruntun di Tol Cipularang

JAWA BARAT,CERITAJAMBI.COM – Kecelakaan beruntun yang melibatkan belasan mobil terjadi di KM 92 Tol Cipularang arah Jakarta, Senin sore, 11 November 2024.

Kecelakaan ini mendapatkan perhatian publik karena banyaknya jumlah kendaraan yang terlibat dalam insiden tersebut.

Hingga saat ini, tercatat 30 korban luka luka dalam kecelakaan beruntun ini. Lalu, apa penyebab kecelakaan beruntun ini ?

Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen. Pol. Aan Suhanan mengatakan penyebab kecelakaan ini adalah truk yang melaju dengan kecepatan tinggi di Tol Cipularan.

Hal ini diungkapkannya setelah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

“Di situ turunan kurang lebih 5 kilo sampai TKP kemudian didapatkan fakta untuk posisi persneling ada di gigi 4 artinya ini gigi tinggi sementara di situ turunan,” jelas Irjen. Pol. Aan saat melakukan peninjauan lokasi kejadian, Senin 11 November 2024 malam.

Irjen. Pol. Aan menerangkan, saat dilakukan evakuasi kepada sopir truk itu sendiri ditemukan dia dalam kondisi sendiri.

BACA JUGA :  Seperti Wajib Militer, Ini yang Ditekankan Prabowo Kepada Menteri saat Mengikuti Pembekalan di Magelang

“Artinya tidak ada kernet,” ungkap Irjen. Pol. Aan.

Menurutnya, dalam olah TKP yang dilakukan ditelusuri jejak rem untuk mengetahui apakah sempat dilakukan upaya pemberhentian kendaraan oleh sopir.

“Nantinya, akan disimpulkan apakah kecelakaan ini karena kelalaian manusia, faktor jalan, faktor cuaca, atau faktor kendaraan,”bebernya.

Sementara itu, berikut tujuh faktor yang diduga menjadi penyebab lain dari kecelakaan tersebut :

1. Topografi Jalan Menurun dan Curam
Jalan di sekitar KM 92 Tol Cipularang memiliki topografi menurun yang cukup curam, sehingga pengemudi harus lebih berhati-hati.

Kapolres Purwakarta AKBP Lilik Ardiansyah mengatakan bahwa daerah ini memang rawan kecelakaan karena kondisi jalannya yang cukup ekstrem.

“Rata-rata di situ rawan kecelakaan,” ujar Lilik Senin 11 November 2024.

2. Penggunaan Gigi yang Tidak Tepat pada Truk.

Saat kecelakaan terjadi, truk yang memicu tabrakan terpantau menggunakan gigi 4, sehingga gagal memanfaatkan sistem pengereman mesin atau engine brake.

Kakorlantas Polri Irjen Pol Aan Suhanan menjelaskan bahwa pengemudi truk seharusnya menggunakan gigi rendah di jalanan menurun untuk menjaga kontrol kendaraan.

BACA JUGA :  Ganti Menteri Pendidikan, Bagaimana Nasib Ujian Nasional dan Kurikulum Merdeka? Ini Kata Mendikdasmen 

“Dengan turunan seperti ini, pengemudi tidak menggunakan engine brake secara maksimal,” ujar Aan yang dikutip wartawan, Senin 11 November 2024.

3. Rem Blong karena Overheat.

Penggunaan rem kaki yang terus-menerus pada jalanan menurun dapat menyebabkan overheating atau panas berlebih, sehingga rem kehilangan daya cengkram dan menyebabkan rem blong.

4. Kurangnya Pemanfaatan Fitur Engine Brake.

Engine brake adalah fitur pengereman tambahan yang efektif untuk memperlambat laju kendaraan di jalan menurun. Namun, banyak pengemudi yang mengabaikan fitur ini karena alasan hemat bahan bakar.

5.Pengabaian Fasilitas ‘Jalan Memaafkan’ .

Di beberapa titik jalan menurun, termasuk di KM 92, terdapat fasilitas pengereman darurat yang dikenal sebagai ‘jalan memaafkan’.

Meski demikian, banyak pengemudi yang tidak menyadari keberadaan fasilitas ini karena berkendara dengan kecepatan tinggi sehingga luput memperhatikan rambu-rambu peringatan.

6. Kompetensi Sopir dalam Menghadapi Jalan Menurun.

BACA JUGA :  Lengkapi Ramadan dan Idul Fitri Dengan Daihatsu, Raih Kesempatan Berangkat Umroh

Kompetensi pengemudi, terutama pada pengemudi truk, dalam menangani kendaraan di jalanan menurun masih menjadi tantangan.

Banyak pengemudi yang tidak memiliki pengetahuan atau keterampilan yang cukup untuk menggunakan teknik pengereman yang tepat, seperti engine brake, terutama saat membawa beban berat.

7. Cuaca dan Kondisi Jalan yang Tidak Mendukung.

Saat musim hujan, jalan tol menjadi lebih licin dan meningkatkan risiko kecelakaan. Dengan topografi yang menurun, jalan yang licin menjadi tantangan tambahan bagi pengemudi. Kondisi ini memperburuk situasi jika pengemudi kurang waspada atau tidak menyesuaikan kecepatan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *