JAKARTA,CERITAJAMBI.COM – Film “GJLS: Ibuku Ibu Ibu” adalah debut layar lebar grup podcast komedi GJLS (Gabut Juga Lagi Senggang), yang terdiri dari Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir. Disutradarai oleh Monty Tiwa, film ini membawa identitas khas GJLS ke panggung yang lebih besar—dan hasilnya? Sebuah film yang benar-benar gak jelas, dalam arti paling menyenangkan.
1. Bloopers yang Jadi Fitur, Bukan Cacat
Biasanya, bloopers atau kesalahan dalam adegan jadi bagian tersendiri di akhir film. Namun di GJLS: Ibuku Ibu Ibu, elemen itu justru ditampilkan secara frontal sepanjang film. Adegan-adegan yang gagal, tawa tak terkendali, improvisasi absurd—semuanya masuk dan menjadi bagian dari cerita. Ini terasa seperti nonton behind-the-scene sambil tetap mengikuti alur utama film.
Keputusan ini bisa saja terasa “tidak profesional” bagi penonton yang terbiasa dengan film yang rapi dan serius. Tapi justru di situlah kekuatannya: kejujuran dan spontanitas jadi sumber tawa yang alami, dan chemistry antara ketiga pemeran utama tampil maksimal.
2. Drama yang Muncul di Tengah Kekacauan
Meski film ini didominasi oleh komedi khas GJLS—random, absurd, dan tak jarang “ngasal”—tetap ada momen-momen yang cukup menyentuh. Drama keluarga antara tiga kakak beradik yang diperankan GJLS diselipkan secara halus.
Kehadiran aktor senior seperti Bucek Depp dan Nadya Arina sebagai penyeimbang suasana sukses memberikan napas emosional, dan Luna Maya sebagai tokoh antagonis tampil cukup intens, meski berada di tengah dunia yang serba kocak.
3. Parade Kameo yang Menghibur
Satu lagi daya tarik film ini adalah kehadiran kameo mengejutkan. Nama-nama besar seperti Maxime Bouttier, Umay Shahab, dan Prilly Latuconsina muncul singkat namun cukup meninggalkan kesan. Walau tidak mengubah jalan cerita, kemunculan mereka memberi kejutan dan bahkan menambah lapisan humor tersendiri. (*)






