Suhu Panas hingga 38 Derajat Landa Indonesia, Ini Penjelasan BMKG

BMKG beri penjelasan mengenai cuaca panas yang melanda Indonesia saat ini

JAKARTA, CERITAJAMBI.COM – Suhu panas melanda beberapa wilayah di Indonesia. Bahkan sangking panasnya, beberapa wilayah di Indonesia ada yang tembus hingga 38 derajat Celcius.

Seperti di wilayah Kota Jambi yang cuacanya sempat tembus hingga 36 derajat Celcius. Hal ini menyebabkan banyak masyarakat yang mengeluh.

Bahkan tidak sedikit warga yang merasa pusing hingga sakit tenggorokan.

Terkait hal ini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberi penjelasan.

BMKG menjelaskan penyebab suhu panas yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia.

Kasi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Pulau Baai, Bengkulu, Anang Anwar, menjelaskan, fenomena ini disebabkan oleh adanya siklon tropis Trami dan Kong-rey yang bergerak di belahan bumi utara.

BACA JUGA :  Jalan Tol Palembang-Betung Bakal Rampung di 2026, Pangkas Waktu Tempuh Jadi 1 Jam

“Awan pada saat ini sangat sedikit yang diakibatkan angin tertarik ke belahan bumi utara sehingga matahari langsung keterima di permukaan bumi,” jelas Anang.

Suhu tinggi ini diperkirakan akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan akibat kondisi atmosfer dan fenomena alam seperti siklon tropis.

Ia menambahkan, siklon tropis tersebut merupakan sistem tekanan rendah yang terbentuk di atas perairan tropis yang hangat, biasanya suhu permukaan laut di atas 26,5 derajat celsius.

“Diperkirakan suhu panas yang terjadi di wilayah Bengkulu terjadi sampai siklon tropis yang di belahan bumi utara selesai,”bebernya.

Hal yang sama juga terjadi di Kota Bogor, Jawa Barat, di mana suhu panas dilaporkan meningkat hingga 35,5 derajat celsius pada 21 dan 22 Oktober 2024.

BACA JUGA :  Rider Yamaha Sang Juara Dunia Aldi Satya Mahendra Kembali ke Indonesia Bawa Pulang Trofi

Forecaster Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Rossian Nursiddiq Islamiardi, menjelaskan selain minimnya tutupan awan, kondisi ini diperparah oleh berkurangnya lahan hijau dan peningkatan polusi udara, yang menyebabkan efek rumah kaca semakin terasa.

Ditambah lagi, Kota Bogor merupakan wilayah zona satu musim sehingga tidak mengenal adanya musim hujan atau kemarau. Atau secara klimatologis, tidak ada perbedaan signifikan antara periode kemarau dan musim hujan.

“Suhu udara Kota Bogor ini akan mulai mereda saat hujan sudah mulai rutin turun. Berdasarkan kondisi atmosfer terkini, kami prakirakan potensi hujan mulai meningkat pada awal November nanti,” papar Rossian. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *